Sejarah Kami
Semua berawal ketika saya membaca sebuah buku yang menceritakan jatuh bangunnya Starbucks oleh Howard Schultz. Saya jadi terinpirasi untuk membuat warung kopi karena saya mencintai kopi dan karena ada modal tentunya, hehehe… Kemudian saya mencari kopi apa yang sangat memungkinkan digunakan dan kebetulan di kampung saya ada kopi yang menurut saya enak dan murah, saya ambil kopi itu. Ketika satu dua kali aku bawa ke kantor dan teman-teman saya merasakan, respon yang didapat cukup positif. Akhirnya saya mulai mematangkan rencana membangun sebuah warung kopi. Seiring berjalannya warung, ternyata teman kampus saya juga ingin membangun sebuah usaha. Setelah saya lobi dan kenalkan dengan dunia kopi, akhirnya dia setuju gabung. Sambil menggodok konsep dan menghitung bujet, 2 teman kampus saya yang lain akhirnya ikut bergabung. Kami lalu sepakat dan bertekad untuk membangun warkop yang akhirnya diberi nama Warkop Kampoeng.
Sesuai namanya, konsep yang ditawarkan adalah kampungan atau ndesho. Jadi yang terbayang adalah bangunan yang serba bambu, meja dan kursi panjang, lesehan dengan menu dan harga yang serba kampungan juga. Sempat ada diskusi lokasinya mau di Solo atau Jogja mengingat ketiga temanku ada di Solo dan aku di Jogja. Setelah mempertimbangkan banyak, kami putuskan membuakanya di Solo. Kami lalu mencari-cari tanah untuk disewa dan ketemu di Ngoresan, utara Asgross, belakang UNS. Ketika proses pembangunan juga banyak kendala yang menghadang terutama membengkaknya bujet. Tapi atas dasar tekad, semangat dan kecintaan pada kopi yang kuat, alhamdulillah semua bisa kami lewati.
Tepat tgl 10 Oktober 2008, telah lahir dengan selamat Waroeng Kopi Kampoeng!
Monggo mampir dan coba Kopi Kampoeng kami!